Perang Vietnam sendiri bisa dibilang Unwanted War, Perang yang Tidak Diinginkan. Kongres yang merasa perlu membendung pengaruh komunis di Asia. Pihak militer sendiri sebenarnya enggan berperang di Vietnam.
Evolusi suatu spesies menjadi spesies lain berlangsung secara bertahap selama jutaan tahun, dan tentu diantara perubahan bertahap itu terjadi bentuk-bentuk transisi atau bentuk lainnya.
Menurut Harun Yahya, petir dapat terjadi ketika tegangan listrik pada dua titik terpisah di atmosfer masih dalam satu awan, atau antara awan dan permukaan tanah, atau antara dua permukaan tanah –-mencapai tingkat tinggi.
Mawar adalah suatu jenis tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Mawar liar terdiri dari 100 spesies lebih, kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk.
Cai Lun (Hanzi: 蔡倫, simplify 蔡伦 , pinyin: Cài Lún, Wade-Giles: Ts’ai Lun) ialah penemu kertas berkebangsaan Tionghoa yang hidup pada zaman Dinasti Han, abad ke-1 - abad ke-2 Masehi.
Venus adalah nama dewi cinta bangsa Yunani. Karena Venus merupakan benda yang menyala paling terang diantara bintang dan planet lainnya sehingga nampak sangat indah dari bumi. Julukannya bintang pagi dan bintang sore. Venus tidak memiliki satelit maupun cincin.
• Keterangan Tentang Venus
- Periode sidereal 224,7 hari bumi
- Suhu 465¬0C
- Periode Rotasi 243 hari bumi
- Jarak rata-rata dari Matahari 108 juta km
- Volume (Bumi = 1) 0,86
- Massa (Bumi = 1) 0,315
- Rapatan (air = 1) 5,25
- Diameter ekuatorial 12.104 km
- Jumlah satelite
Venus mempunyai arah rotasi yang berlawanan dengan planet-planet lainnya. Atmosfer venus yang berawan rapat dan tebal menyembunyikan permukannnya dari teleskop yang paling cangging sekalipun. Atmosfernya juga sangat mematikan, terdiri atas campuran carbon dioksida dan asam sulfat yang menyebabkan efek rumah kaca. Radiasi infra merah dari matahari terkurung dalam atmosfernya, sehingga suhu permukannya sangat panas, mencapai 4650C.
Tekanan atmosfer Venus sangat besar. Berdasarkan data yang dikirimkan oleh pesawat Venera, tekanan disana 890 kali lebih besar dari tekanan atmosfer bumi.
Planet Venus adalah planet kedua yang dekat dengan Matahari setelah planet Merkurius. Planet ini memiliki radius 6.052 km, berevolusi dalam waktu 224,7 hari, berotasi selama 249,0 hari, dan mempunyai diameter 108,2 Juta Km. Atmosfer Venus mengandung 97% karbondioksida (CO2) dan 3% nitrogen, sehingga hampir tidak mungkin terdapat kehidupan. Planet ini tidak memiliki satelit alam seperti planet merkurius. Ukuran planet ini hampir sama dengan bumi dan juga letaknya yang paling dekat dengan Bumi. Seperti Merkurius planet ini juga dapat dilihat dengan mata telanjang, Venus biasanya terlihat di sebelah timur sebelum matahari terbit, sehingga venus disebut bintang timur atau bintang pagi. Kadang-kadang juga venus terlihat di sebelah barat sebelum matahari terbenam, sehingga venus dinamakan bintang senja, bintang barat, atau bintang kejora.
Kandungan atmosfernya yang pekat dengan CO2 menyebabkan suhu permukaannya sangat tinggi akibat efek rumah kaca. Atmosfer Venus tebal dan selalu diselubungi oleh awan. Pakar astrobiologi berspekulasi bahwa pada lapisan awan Venus termobakteri tertentu masih dapat melangsungkan kehidupan.
Arah rotasi Venus berlawanan dengan arah rotasi planet-planet lain yang ada di tata surya ini. Selain itu, jangka waktu rotasi Venus lebih lama daripada jangka waktu revolusinya untuk mengelilingi matahari.
2. Struktur
Bagian Luar Planet Venus sering di tutupi awan padat. Atmosfer nya terdiri dari Karbondioksida dan nitrogen. Temperatur permukaan venus sangat tinggi, yaitu 480°C, sehingga tidak mungkin ada air dalam wujud cair.
Kandungan atmosfernya yang pekat dengan CO2 menyebabkan suhu permukaannya sangat tinggi karna diakibatkan oleh efek rumah kaca. Atmosfer Venus tebal dan selalu diselubungi oleh awan. Pakar astrobiologi berspekulasi bahwa pada lapisan awan Venus termobakteri tertentu masih dapat melangsungkan kehidupan.
Struktur dari Venus
Dalam wawancara telepon dengan dr. david grinspoon, Ilmuwan Antardisiplin dari proyek Venus Express badan antariksa Eropa, beliau menyampaikan bahwa atmosfer di Venus pernah mendukung kehidupan. “Apakah pernah ada kehidupan hewan di venus? Saya ingin mengatakan bahwa jawabannya ya. Kami sungguh tidak tahu berapa lama kehidupan pernah ada di venus sebelum perubahan iklim yang ekstrem seperti yang kita lihat hari ini membuat hidup kita menderita”.
Venus dipercaya oleh para ilmuwan telah mengalami pemanasan global yang cepat serta bencana yang sama yang sedang dihadapi oleh Bumi. Pada bulan Juli 2008, ternyata benar ditemukan adanya hydrooxl di Venus, Hydroxyl adalah molekul penting yang susah dideteksi. Molekul ini tersusun dari atom hydrogen dan oxygen. Molekul ini ditemukan di permukaan Venus, sekitar 100 KM diatas permukaan atmosfer Venus yang ditemukan oleh Venus Express (wahana luar angkasa yang memiliki misi mendalami planet Venus) Molekul membingungkan ini berhasil dideteksi setelah menjauhkan Venus Express dari permukaan venus dan mengamati permukaan venus yang meredup. Hydroxyl dideteksi dengan mengukur tingkat infra merah yang dipancarkan oleh venus. Ada pemikiran yang menyatakan bahwa hydroxyl ini penting untuk atmosfer planet lain karena sangat reaktif. Di bumi sendiri, hydroxyl ini perperan untuk membersihkan polutan dari atmosfer dan membantu menjaga kestabilan karbon dioksida, mencegahnya berubah menjadi karbon monoksida.
Para ilmuan peneliti Venus masih mengkalkulasi perkiraan jumlah ozone yang terdapat pada atmosfer planet Venus. Kondisi Hydroxyl di Venus sendiri tidak stabil bisa mencapai 50% di satu sisi dan melemah atau menguat di sisi lain, hal ini juga berarti bahwa jumlah ozone yang ada di planet ini juga tidak stabil. Ozone sendiri penting bagi kehidupan karena dapat menyerap radiasi ultraviolet yang dipancarkan oleh matahari. Penyerapan radiasi ultra violet ini sangat mempengaruhi suhu suatu planet, dan tentu saja kemungkinan hidup di planet tersebut.
3. Penelitian yang Terkait
- Ada petir di Venus ?
Untuk pertama kalinya, keberadaan petir di atmosfer Planet Venus berhasil dibuktikan secara ilmiah. Wahana milik Eropa yang mengamati planet tersebut dari dekat, Venus Express, berhasil merekamnya.
Penampangan Petir di Permukaan Venus
Selama hampir 30 tahun, para astronom sudah yakin bahwa petir seperti di atmosfer Bumi juga terjadi di Venus. Pada tahun 1978, wahana milik NASA merekam tanda-tanda locatan listrik di atmosfer Venus. Namun, bukti tersebut belum kuat karena adanya interferensi sinyal.
Hipotesis tersebut semakin kuat setelah antena magnetik yang dibawa Venus Express merekamnya dengan jelas. Memang bukan dalam bentuk foto, melainkan perubahan sifat-sifat magnetik.
"Kami yakin ini bukti definitif pertama adanya petir di Venus," ujar David Grinspoon dari Museum Alam dan Sains Denver dalam sebuah konferensi pers di Paris, Rabu (28/11).
Temuan ini sangat penting karena petir memengaruhi sifat kimia atmosfer, salah satu informasi yang dibutuhkan para ilmuwan untuk mempelajari lebih lanjut iklim di Venus. Petir juga diyakini sebagai energi yang memicu kehidupan.
Menurut CT Russell, penulis temuan ilmiah yang dipublikasikan jurnal Nature edisi terbaru ini, petir meloncat dari awan ke awan yang berada sekitar 56 kilometer dari permukaan Venus. Meski demikian, petir mungkin tak dapat dilihat dari permukaan Venus mengingat atmosfernya 100 kali lebih pekat daripada atmosfer Bumi, 900 derajat lebih panas, dan hamparan awan gelap dari asam sulfur.
- Air di Venus?
Pada deteksinya yang pertama, Venus Express berhasil menjejak proses hilangnya lapisan atmosfer pada Planet Venus dari sisi siang planet tersebut, tetapi tahun lalu, wahana antariksa itu telah mengungkap bahwa sebagian besar atmosfer planet itu hilang di malam hari.
Kombinasi dua pendeteksian atmosferik ini membawa para antariksawan semakin dekat memahami apa yang sebenarnya terjadi pada air Planet Venus yang diduga pernah semelimpah Planet Bumi.
Instrumen magnetometer Venus Express (MAG) telah mendeteksi secara tidak terbantahkan bahwa unsur gas hidrogen telah dilepaskan pada siang hari. "Ini adalah proses yang dipercaya pernah terjadi pada Venus namun baru pertamakali ini kami bersepakat," kata Magda Delva dari Akademi Sains Austria di Graz, yang memimpin proyek investigasi Venus ini.
Berkat pilihan orbit yang tepat, Venus Express secara strategis ditempatkan pada posisi yang memungkinkannya mampu menyelidiki proses hilangnya atmosfer Planet Venus. Wahana antariksa ini mengelilingi kedua kutub Planet Venus dengan orbit yang sangat eliptis.
Air adalah molekul kunci dalam Planet Bumi yang membuat planet itu dihuni kehidupan. Dan karena Bumi dan Venus hampir seukuran dan dibentuk pada masa yang relatif sezaman, para astronom mempercayai kedua planet ini dibentuk oleh unsur cair yang sama banyaknya.
Kini diketahui bahwa proporsi air di kedua planet ini ternyata sangat berbeda. Kandungan air di atmosfer dan samudera pada Planet Bumi ternyata 100 ribu kali banyak dari yang ada di Venus.
Berkaitan dengan rendahnya konsentrasi air di Planet Venus, Delva dan kolega-koleganya menemukan fakta bahwa sejumlah inti hidrogen yang merupakan atom-atom penyusun molekul air, hilang setiap detik di siang hari Planet Venus.
Tahun lalu, Analyser of Space Plasma and Energetic Atoms (ASPERA) yang tertancap dalam Venus Express menunjukkan, ada penghilangan unsur hidrogen dan oksigen di sisi malam dari planet itu yang banyaknya berbanding dua kali atau setiap satu oksigen yang dilepaskan setara dengan dua kali atom hidrogen lepas.
Mengingat air tersusun dari dua atom hidrogen dan satu atom oksigen, maka atom-atom yang terlepas itu menunjukkan bahwa molekul air telah diurai di atmosfer Planet Venus.
Matahari tidak hanya memancarkan sinar dan panasnya ke ruang angkasa, tetapi juga dengan konstan memuntahkan badai surya yang terdiri dari semburan partikel-partikel bermuatan listrik dan magnetik. Badai surya ini menciptakan medan-medan elektromagnetis dalam Sistem Tata Surya dan bertiup melewati planet-planet.
Tidak seperti Bumi, Venus tidak menghasilkan medan magnetik yang sebenarnya sangat penting karena melindungi atmosfer Bumi dari terjangan badai surya. Meskipun begitu, di Venus, badai surya menyerang lapisan teratas atmosfer dan tidak membawa partikel ke ruang angkasa.
Para pakar planetologi yakin bahwa Venus telah kehilangan kandungan airnya melalui cara itu dan itu terjadi selama 4,5 miliar tahun sejak Planet Bumi tercipta.
"Kami melihat air dilepaskan pada malam hari (Planet Venus) namun tetap tersisa pertanyaan, berapa banyak air planet itu hilang oleh cara seperti itu," kata Stas Barabash dari Institut Astrofiska Swedia di kota Kiruna dan kepala investigasi Venus pada ASPERA yang mencermati kondisi malam Planet Venus.
Penemuan ini membuat para ilmuwan maju selangkah dalam memahami detail proses hilangnya atmosfer Planet Venus, namun penemuan itu belum bisa menjawab misteri yang selama ini menyelimuti Venus.
Agaknya, untuk menegaskan bahwa hidrogen di Planet Venus berasal dari air, Delva dan kawan-kawannya mestinya juga mendeteksi atom-atom oksigen pada siang harinya Venus, sekaligus memerifikasi bahwa ada sekitar setengah total hidrogen Venus telah lepas dari atmosfer planet ini.
Sejauh ini, metode ini mustahil ditempuh. "Saya terus mencermati data magnetometer namun sejauh ini saya tidak dapat melihat tanda ada pelepasan oksigen di sisi siang planet itu," kata Delva.
Hipotesis ini memunculkan sebuah misteri baru. "Hasil ini menunjukkan bahwa setidaknya kandungan oksigen di lapis teratas atmosfer Venus duakali lebih banyak ketimbang hidorgennya seperti yang kita duga sebelum ini," kata Delva.
Ion-ion hidrogen yang terdeteksi mungkin ada di atmosfer jauh di atas permukaan Bumi, namun sumber-sumbernya di wilayah-wilayah itu tidak diketahui. Oleh karena itu, seperti halnya dewi asmara, Planet Venus terus menyimpan misterinya
- Gunung Berapi di Venus?
Satelit pemantau Venus Express milik Badan Antariksa Eropa (ESA) mendeteksi adanya gas gunung berapi sulfur dioksida dalam kuantitas besar di Venus. Para ilmuwan kini berusaha menentukan apakah itu membuktikan adanya gunung berapi aktif di planet tersebut atau gas itu sekadar lahir dari mekanisme di atmosfer.
Gunung di Venus
Pencarian gunung berapi di Venus memang sudah lama dilakukan ESA. “Gunung berapi adalah bagian penting dari sistem iklim sebuah planet,” kata Fred Taylor, ilmuwan program Venus Express dari Universitas Oxford, Inggris. “Gunung berapi melepas gas seperti sulfur dioksida ke atmosfer planet.”
Di bumi, sulfur tak tinggal lama di atmosfer. Sebaliknya, sulfur beraksi dengan permukaan Bumi yang didominasi laut. Hal yang sama diduga terjadi pula di Venus walaupun dengan proses yang lebih lambat, dalam skala sekitar 20 juta tahun.
Beberapa ilmuwan memperkirakan proporsi besar sulfur dioksida yang ditemukan di atmosfer merupakan bagian dari “asap mesiu” erupsi gunung berapi. Meski demikian, ledakan semacam itu dapat terjadi sekitar 10 juta tahun lalu dan sulfur tetap berada di atmosfer karena dibutuhkan waktu lama untuk turun ke permukaan planet yang didominasi batuan.
- Misteri Alam di Venus
Selama ini para ahli astronomi belum berhasil menemukan jawaban dari keanehan yang terjadi di planet Venus. Yang jelas, Venus tersusun atas materi yang sama dengan bumi kecuali kenyataan bahwa Venus jauh lebih kering, beratmosfir lebih padat dan panasnya mampu melelehkan timah. Venus juga berotasi terbalik dibanding semua planet dalam tata surya kita. John Huw Davies, ilmuwan dari Cardiff University di Inggris baru-baru ini mengemukakan sebuah pendapat bahwa Venus terbentuk dari benturan dua materi pembentuk planet yang berukuran sangat besar. Dalam proses pembentukan itu, semua kandungan air musnah dan menyebabkan kondisi Venus yang kering.Penjelasan itu bukan tidak mungkin karena sebagian besar ilmuwan yakin bahwa bulan juga terbentuk dari hasil benturan sebuah materi pembentuk planet sebesar Mars dengan Bumi. Venus diperkirakan dibentuk dari benturan materi yang jauh lebih besar lagi. Beberapa ilmuwan meragukan pendapat Davies ini namun mereka masih belum menemukan celah dalam pernyataan Davies yang cukup detail tersebut. Menurut Davies besarnya massa yang bertubrukan menghasilkan energi yang cukup besar untuk memecahkan air menjadi unsur penyusunnya yaitu Hidrogen dan Oksigen. Hidrogen kemudian menguap sedangkan Oksigen menyatu dengan besi dan menyatu dengan inti planet. Sejauh ini belum ada kesatuan pendapat antara para ilmuwan namun Davies yakin bahwa pendapatnya layak untuk di tindak lanjuti lebih jauh lagi.
- Global Warming di Venus
Akhir-akhir ini sering terdengar tentang pemanasan global atau global warming. Pemanasan global ini adalah kenaikan temperatur rata-rata di permukaan bumi selama beberapa dekade belakangan ini. Selama dekade belakangan ini suhu rata-rata di permukaan bumi mengalami anomali dengan meningkatnya suhu rata-rata. Hanya beberapa daerah saja di muka bumi ini yang justru rata-rata suhu permukaannya turun kebanyakan di daerah lautan. Pemanasan global ini disebabkan oleh banyaknya gas-gas rumah kaca (greenhouse gas) yang akhir-akhir ini dilepaskan ke atmosfir akibat aktivitas-aktivitas manusia (yang kebanyakan adalah pembakaran bahan bakar berbasis hidrokarbon). Gas-gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfir dari aktivitas-aktivitas manusia tersebut adalah: gas CO2 (karbon dioksida), N2O (dinitrogen monoksida), CFC (kloroflourokarbon) dan CH4 (metana). Penebangan hutan yang terjadi di mana-mana turut memperparah terjadinya pemanasan global. Uap air juga merupakan gas rumah kaca, namun uap air (yang kebanyakan berasal dari sumber-sumber alami) tidak memberikan kontribusi positif terhadap pemanasan global.
Ada satu tempat di tata surya, di sebuah planet yang merupakan tetangga Bumi yang merupakan tempat di mana pemanasan globalnya benar-benar dahsyat yaitu Planet Venus. Planet yang berabad-abad diasosiasikan dengan kaum wanita ini karena planet ini kalau dilihat dari Bumi dengan menggunakan teleskop benar-benar terlihat ‘mulus’ dan tidak rata penuh dengan kawah-kawah seperti di Bulan ataupun Merkurius ataupun Mars. Planet ini terlihat ‘mulus’ karena yang terlihat adalah awan dan atmosfir Venus yang ekstra tebal yang sangat kaya dengan CO2 (>95%). Sangking tebalnya sehingga awan dan atmosfir Venus ini menutup daratan planet ini yang sebenarnya juga tidak rata. Karena atmosfir Venus sangat kaya dengan CO2 dan juga karena ketebalannya, maka tak ayal lagi planet ini layak dinobatkan sebagai ratunya planet pemanasan global di tata surya. Suhu permukaan planet ini adalah >460°C ( >860°F) padahal planet yang paling dekat dengan Matahari yaitu Merkurius yang mendapat energi/panas matahari 4 kali dari planet Venus, suhunya pada siang hari (sisi yang menghadap matahari) panasnya hanya kira-kira 420°C (790°F). Hal ini berarti bahwa Venus merupakan planet yang terpanas permukaannya di antara planet-planet lain di tata surya. Suhunya pada malam hari juga tidak berbeda jauh, ini karena panas dari tempat yang menghadap matahari di bawa oleh angin di bagian bawah atmosfir ke bagian yang malam hari. Para ahli mengatakan kemungkinan zaman dahulu atmosfir Venus menyerupai atmosfir Bumi karena dahulu cukup banyak air di permukaan Venus. Namun karena air ini menguap dan banyak yang hilang ke angkasa maka mulailah efek rumah kaca yang memicu pemanasan global yang terjadi pada planet itu hingga saat ini. Neraka di Venus ini diperparah dengan tekanannya yang sangat besar. Jikalau di Bumi, tekanan pada ketinggian di permukaan laut adalah sebesar 1 atmosfer (semakin tinggi elevasi semakin berkurang tekanan atmosfer) maka di Venus tekanan di permukaan planetnya adalah kira-kira sebesar 90 atmosfer.
- Penemuan Hydroxyl di Venus?
Hydroxyl adalah molekul penting yang susah dideteksi. Molekul ini tersusun dari atom hydrogen dan oxygen. Molekul ini ditemukan di permukaan venus, sekitar 100 KM diatas permukaan atmosfer venus yang menemukan adalah Venus Express (wahana luar angkasa yang memiliki misi mendalami planet venus)
Molekul membingungkan ini berhasil dideteksi setelah menjauhkan venus express dari permukaan venus dan mengamati permukaan venus yang meredup. Hydroxyl dideteksi dengan mengukur tingkat infra merah yang dipancarkan oleh venus.
Ada pemikiran yang menyatakan bahwa hydroxyl ini penting untuk atmosfer planet lain karena sangat reaktif. Di bumi sendiri, hydroxyl ini perperan untuk membersihkan polutan dari atmosfer dan membantu menjaga kestabilan karbon dioksida, mencegahnya berubah menjadi karbon monoksida.Di Mars, hydroxyl berperan untuk menjaga kesterilan tanah, mencegah mikroba masuk ke permukaan Mars.
Di Atmosfer bumi, Hydroxyl sangat berkaitan dengan banyaknya ozone yang menyusun atmosfer permukaan bumi. Para ilmuan peneliti Venus masih mengkalkulasi perkiraan jumlah ozone yang terdapat padaatmosfer planet venus. Kondisi Hydroxyl di Venus sendiri tidak stabil bisa mencapai 50% di satu sisi dan melemah atau menguat di sisi lain, hal ini tentu juga berarti bahwa jumlah ozone yang ada di planet ini juga tidak stabil.
Ozone sendiri penting bagi kehidupan karena dapat menyerap radiasi ultraviolet yang dipancarkan oleh matahari. Penyerapan radiasi ultra violet ini sangat mempengaruhi suhu suatu planet, dan tentu saja kemungkinan hidup di planet tersebut. Nah, jika ternyata tingakat hydroxyl di venus cukup dan ozonenya juga cukup, maka harapan untuk dapat tinggal di planet lain mungkin dapat direalisasikan.
- Kehidupan di Venus?
Planet Venus selama ini dikenal sebagai planet yang paling memiliki banyak rintangan untuk ditinggali. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa planet Venus di usia mudanya berpotensi untuk ditinggali.
Keyakinan penelitian tersebut karena Venus diyakini ternyata pernah memiliki pasokan air yang sangat cukup, bahkan tidak tertutup keungkinan berbentuk lautan.
Hal tersebut terungkap ketika satelit Venus Express milik Badan Antariksa Eropa (ESA) mengorbit planet tersebut. Pemantauan yang dilakukan menunjukkan bahwa Venus dan Bumi tidaklah berbeda sebagaimana yang tampak.
Saat ini diyakini Bumi dipenuhi kehidupan dengan suhu sejuk. Venus tidak dapat ditinggali karena memiliki suhu yangs sangat panas, bahkan terlampau panas.
"Namun di lain hal, ukuran dan tampilan Venus dan Bumi hampir sama. Komposisi dasar Venus dan Bumi sangatlah mirip," ungkap salah satu ilmuwan proyek ESA untuk Venus Express, Hakan Svedhem, Senin (28/6).
Saat ini Venus memiliki pasokan air yang sangat sedikit. Jika jumlah uap air di atmosfer Venus tersebar ke permukaan planetnya, hanya akan terbentuk genangan air sedalam tiga sentimeter. Berbeda dengan Bumi yang bila uap airnya tersebar di seluruh permukaannya akan membuat genangan sedalam tiga kilometer.
Namun miliaran tahun lalu, Venus memiliki lebih banyak air. Seiring perjalanan waktu, Venus diperkirakan kehilangan sejumlah besar airnya karena radiasi ultraviolet. Radiasi tersebut memecah molekul air menjadi unsur hidrogen dan atom oksigen yang akhirnya menghilang ke luar angkasa.
Venus Express telah mengukur kemungkinan jumlah uap air yang keluar tersebut dan menemukan fakta bahwa memang terdapat pengeluaran tersebut. Jumlah uap air yang keluar diperkirakan dua kali dari jumlah oksigen yang keluar. "Semua indikator menunjukkan jelas bahwa terdapat banyak pasokan air di Venus di masa lampau," papar ilmuwan lainnya, Colin Wilson dari Universitas Oxford, Inggris.
"Semua poin ke sana karena sejumlah besar air di Venus di masa lalu," kata anggota tim riset Colin Wilson dari Universitas Oxford di Inggris. "Jika Venus pernah memiliki air di permukaannya, planet Venus kemungkinan pernah memiliki kehidupan," tambah ilmuwan lainnya lagi, Eric Chassefiere dari Uiversitas Paris-Sud, Prancis.
Jupiter adalah nama pemimpin dewa-dewa Romawi, merupakan planet terbesar dalam tata surya kita dengan 4 satelit dari 16 satelitnya, sebesar bumi yaitu Ganymede, Callisto, Io dan Europa. Satelit yang lainnya adalah Amalthea, Himalia, Elara, Pasiphae, Sinope, Lysithea, Carme, Ananke, Leda, Thebe, Andras-tea, dan Metis.
• Keterangan Tentang Jupiter
- Periode sidereal 11,86 hari bumi
- Suhu dipuncak awan -150¬0C
- Periode Rotasi 9 jam 50 menit
- Jarak rata-rata dari Matahari 778 juta km
- Volume (Bumi = 1) 0,319
- Massa (Bumi = 1) 0,318
- Rapatan (air = 1) 3,33
- Diameter ekuatorial 142.800 km
- Jumlah satelite 16
Strukturnya berbeda dari planet sebelah dalam yang padat. Sebagian besar Jupiter terdiri dari gas hydrogen dan helium. Dibawah tataran awan, tekanannya sangat besar, sehingga hydrogen dimampatkan dalam bentuk cairan dan dibawahnya lagi menjadi hydrogen logam. Planet ini menyebarkan lebih banyak radiasi panas yang diterimannya dari matahari daripada menerimanya, karena materinya terus menerus tenggelam beberapa millimeter pertahun.
Apabila Jupiter memiliki massa yang lebih besar, gas pada intinya akan panas dan cukup dan cukup rapat untuk radiasi nuklir jenis fusi dan Jupiter akan menjadi bintang. Walaupun Jupiter merupakan planet, pesawat-pesawat penjajah antariksa, yang memerlukan waktu beberapa tahun untuk sampai kesana, harus dilindungi dari sabuk radisi yang dapat menghancurkan peralatan. Pesawat apapun yang dikirim ke atmosfer Jupiter yang bergolak akan terpelanting seperti kaleng tipis dibawah tekanan.
Karena jauhnya dari matahari dan sifat hydrogen yang mudah menguap menjadikan Jupiter menjadi planet awan dingin, yaitu -7500C. sedabgkan cicin tipisnya yang berwarna kuning mempunyai ketebalan 30km.
Jupiter adalah planet raksasa berukuran 1330 kali bumi, tetapi permukaannya berupa gas cair bersuhu sangat dingin, minus 150 derajat Celsius. Kondisi ini tidak memungkinkan adanya kehidupan seperti yang kita kenal di bumi. Ciri utama planet ini adalah bintik merah raksasa, yang besarnya beberapa kali diameter bumi. Bintik itu adalah topan semi permanen.
Yupiter atau Jupiter adalah planet terdekat kelima dari matahari setelah Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.
Jarak rata-rata antara Jupiter dan Matahari adalah 778,3 juta km. Jupiter adalah planet terbesar dan terberat dengan diameter ekuatornya 14.980 km dan memiliki massa 318 kali massa bumi. Periode rotasi planet ini adalah 9,8 jam, sedangkan periode revolusi adalah 11,86 tahun. Volume Jupiter 1.319 kai volume Bumi.
Saat ini diketahui ada 17 satelit dan cincin tipis yang mengitari Jupiter. Empat satelit terbesarnya, Ganymede, Callisto, Io, dan Europa, telah ditemukan oleh Galileo Galilei pada 1610. Pengamatan dengan pesawat antariksa Vayager pada tahun 1970-an mengungkapkan karakteristik yang berbeda-beda antara ke-empat satelit itu. Ganymede menunjukkan aktivitas geologi dengan adanya barisan bukit. Callisto menunjukkan wajah yang penuh kawah tumbukan. Sementara itu Io dipenuhi gunung berapi yang aktif. Europa lain lagi, seluruh permukaannya diliputi es.
Europa, satelit Jupiter keempat terbesar kini menyajikan teka-teki menarik tentang kemungkinan adanya kehidupan. Desember tahun lalu, pesawat Galileo (diambil dari nama astronom Galileo Galilei) memberikan gambar yang lebih jelas tentang Europa ini. Permukaannya menunjukkan adanya pola-pola seperti lautan beku. Diduga di bawah lapisan es itu ada lautan air, komponen penting bagi kehidupan.
2. Struktur
Di permukaan planet ini terdapat bintik merah raksasa. Atmosfer Jupiter mengandung hidrogen (H), helium (He), metana (CH4), dan amonia (NH3). Suhu di permukaan planet ini berkisar dari -140oC sampai dengan 21oC. Seperti planet lain, Jupiter tersusun atas unsur besi dan unsur berat lainnya. Jupiter memiliki 63 satelit, di antaranya Io, Europa, Ganymede, Callisto
Struktur Dalam Jupiter
- Struktur Dalam
Jupiter adalah salah satu dari empat raksasa gas, yaitu tidak terutama terdiri dari materi padat. Ini adalah planet terbesar di tata surya, memiliki diameter 142.984 km pada bagian khatulistiwa. Jupiter kerapatan, 1,326 g / cm ³, adalah tertinggi kedua dari planet gas raksasa, tetapi lebih rendah daripada salah satu dari empat planet terestrial.
Jupiter diperkirakan terdiri dari inti yang padat dengan campuran unsur-unsur, lapisan sekitarnya metalik hidrogen cair dengan beberapa helium, dan didominasi lapisan luar dari mol
- Struktur Luar
Atas atmosfer Jupiter terdiri dari sekitar 88-92% 8-12% hidrogen dan helium oleh persen fraksi volume atau molekul gas (lihat tabel ke kanan). Karena atom helium memiliki sekitar empat kali lebih banyak massa sebagai atom hidrogen, perubahan komposisi ketika digambarkan dalam bentuk proporsi massa yang disumbangkan oleh atom yang berbeda. Dengan demikian atmosfer adalah sekitar 75% hidrogen dan 24% helium oleh massa, dengan sisa satu persen dari massa yang terdiri dari unsur-unsur lain. Interior mengandung bahan padat sehingga distribusi sekitar 71% hidrogen, 24% helium dan 5% unsur lainnya oleh massa. Suasana mengandung jumlah jejak metana, uap air, amonia, dan senyawa berbasis silikon. Ada juga bekas-bekas karbon, etana, hidrogen sulfida, neon, oksigen, Fosfina, dan belerang. Lapisan terluar atmosfer mengandung kristal amonia beku. Melalui inframerah dan ultraviolet pengukuran, jumlah jejak benzena dan hidrokarbon lain juga telah ditemukan.
Proporsi atmosfer hidrogen dan helium yang sangat dekat dengan komposisi teoritis purba nebula surya. Namun, neon di bagian atas atmosfer hanya terdiri dari 20 bagian per juta oleh massa, yang berjarak sekitar sepersepuluh yang melimpah seperti di Matahari. Helium juga habis, meskipun hanya untuk sekitar 80% dari komposisi helium Sun. Penipisan ini mungkin hasil presipitasi dari unsur-unsur tersebut ke dalam bagian dalam planet ini. kelimpahan dari berat inert gas di atmosfer Jupiter adalah sekitar dua sampai tiga kali lipat dari matahari.
Berdasarkan spektroskopi, Saturnus dianggap mirip dengan komposisi untuk Yupiter, tetapi raksasa gas lainnya Uranus dan Neptunus mempunyai relatif jauh lebih sedikit hidrogen dan helium. Namun, karena kurangnya masuk atmosfer probe, kualitas tinggi dalam jumlah melimpah unsur-unsur yang lebih berat yang tidak ada di luar planet-planet luar Jupiter.
- Cincin Planet
Cincin Jupiter tak bisa kita nikmati menggunakan teleskop. Tidak seperti cincin Saturnus memang yang terlihat jelas dari Bumi dengan teleskop kecil sekalipun. Cincin Jupiter memiliki beberapa komponen antara lain cincin halo, cincin utama dan cincin gossamer.
Cincin Halo merupakan bagian terdalam berupa awan tebal yang berada pada jarak 92 000 km – 122 500 km dari inti Jupiter. Bagian halo ini mengalami peningkatan inklinasi akibat interaksi dengan bidang magnet Jupiter. Komponen berikutnya adalah cincin utama yang lebih tipis dan sempit berada pada jarak 122500 km – 128940 km dari pusat Jupiter dengan ketebalan 30 km dari atas ke bawah. Pada bagian ini terdapat juga partikel-partikel besar yang mengisi bagian cincinnya.
Komponen terakhir dari cincin Jupiter adalah cincin Gossamer yang redup dan terbagi atas dua bagian yakni Cincin Almathea (yang dekat ke Jupiter) dan Cincin Thebe. Cincin Almathea dimulai dari satelit Almathea ke bagian dalam Jupiter pada jarak 181000 km dan memiliki kecerlangan seragam. Sedangkan cincin Thebe yang berada di bagian terluar sampai dengan cincin Almathea berada pada jarak 222000 km dari Jupiter. Cincin ini lebih redup namun juga lebih tebal dibanding Cincin Almathea, namun jika dilihat dari citra resolusi tinggi yang diambil oleh Galileo, tepi atas dan bawah cincin Thebe akan terlihat lebih terang dibanding bagian pusatnya.
Cincin Jupiter memang redup jika dibandingkan dengan cincin Saturnus dan ia terbentuk dari materi yang gelap kemerah-merahan. Artinya, materi pembentuk cincin bukanlah es seperti di Saturnus melainkan batuan dan pecahan-pecahan debu. Citra yang diambil Voyager 2 menunjukan partikel pembentuk cincin sangatlah kecil dengan diameter hanya sekitar 10 mikrometer atau kurang dari itu. Bisa dikatakan partikel-partikel dalam cincin itu tak lebih besar dari partikel asap rokok atau debu rumah. Di bagian atas dan bawah cincin, terbentang awan partikel, medan elektrostatis yang terdorong keluar dari cincin oleh medan magnet Jupiter.
Jika dilihat dari letaknya, cincin Jupiter berada dalam batas Roche, sangat dekat dengan planet itu sendiri. Pada area ini satelit yang ada akan hancur akibat gaya gravitasi planet. Ini mengindikasikan kalau cincin Jupiter terbentuk dari satelit yang gagal. Selain itu, hasil pengamatan pesawat ruang angkasa Galileo juga menunjukan debu yang membentuk cincin berasal meteor yang menghantam permukaan satelit Jupiter. Selama 7 tahun perjalanannya, Galileo berhasil mendata ribuan tabrakan partikel dalam cincin Jupiter dari tahun 2002-2003.
3. Tentang Europa
Baru-baru ini mengungkapkan perairan Europa yang merupakan bulan dari planet Jupiter, ternyata memiliki oksigen yang cukup banyak untuk menghidupi jutaan ikan. Walaupun begitu, belum ada kemungkinan atau temuan adanya ikan di Europa, namun berdasarkan temuan terbaru menunjukkan Europa mendukung adanya seluruh jenis ikan yang ada di Bumi.
Europa sebenarnya memiliki ukuran yang sama dengan bulan milik Bumi, dan memiliki samudera dengan kedalaman 160 kilometer dengan beberapa kilometernya berupa lapisan es. Dengan adanya temuan ini, para ilmuwan melakukan spekulasi-spekulasi bahwa adanya oksigen tersebut ada suatu kemungkinan manusia dapat hidup di sana, sebagaimana hukum alam bahwa di mana ada air akan ada kesempatan hidup. Dan ketersediaan oksigen yang dipercayai dapat mendukung kehidupan ikan tersebut, tentu juga mendukung keberlangsungan hidup manusia. Dan tidak heran, juga dapat mendukung kehidupan makhluk luar angkasa.
Faktor pendorong terjadinya spekuasi tersebut, lantaran adanya es yang melimpah di permukaan Europa, yang terbuat dari air yang sama seperti di Bumi, yaitu kombinasi antara hidrogen dan oksigen. Dan radiasi dari Jupiter dipercaya oleh para ilmuwan dapat mengalir (stabil) untuk bereaksi dengan lapisan es tersebut dan tentunya untuk kembali membentuk oksigen bebas dan oksidan lain seperti hidrogen peroksida.
Reaktivitas oksigen adalah kunci untuk menghasilkan energi yang membantu kehidupan multiselular berkembang di Bumi selama ini.
Namun, ada yang membuat kemungkinan untuk manusia hidup di Europa kembali terhalang. Gaya gravitasi Jupiter terhadap Europa diketahui jauh lebih besar sehingga Europa mengalami pasang surut permukaan laut sekitar 1.000 kali lebih kuat dari yang terjadi di Bumi.
Ini membuat Europa juga lebih aktif secara geologis. Karenanya, permukaannya terlihat berusia tidak lebih dari 50 tahun. Penyebabnya, lapisannya selalu baru saat aktivitas geologi terjadi.
4. Penemuan dan Penelitian Terkait
- Menghilangnya Sabuk Jupiter?
Ada yang tak beres dengan Planet Jupiter saat ini. Pengamat planet mencatat bahwa Jupiter nampak sedikit telanjang, planet itu kehilangan satu sabuknya yang ikonik.
Menurut Planetary Society, perubahan bisa dilihat siapa saja, bahkan dengan teleskop yang relatif kecil sekalipun. Gejala hilangnya sabuk Jupiter dimulai sekitar Juni 2009 lalu, ketika sabuk equator selatan Jupiter mulai memudar.
Namun, di bulan Mei ini, sabuk itu sudah lenyap sama sekali, hanya menyisakan sabuk equator utara — yang menutupi ‘ketelanjangan’ Jupiter. Sudah jadi pengetahuan umum bahwa sabuk Jupiter akan menghilang, saat Jupiter merunduk di balik matahari selama tiga bulan. Namun baru kali ini para pengamat mengetahui seberapa luas sabuk gas itu menghilang.
Pengamat Jupiter, Anthony Wesley — memergoki hilangnya sabuk dari halaman belakang rumahnya. Dia membandingkan foto Jupiter yang diambilnya pada 9 Mei 2010 dan 17 Juli 2009. “Dua foto ini menunjukan fenomena tersebut,” kata dia, seperti dimuat laman News.com.au, Rabu 12 Mei 2010.
“Jelas tahun lalu sabuk itu sudah memudar. Ini diamati dengan jelas oleh siapapun yang melihat Jupiter.” Wesley mengatakan apa yang menyebabkan sabuk memudar, masih jadi misteri. Namun, penjelasan paling mungkin terkait aktivitas badai di Jupiter.
Yang menarik bagi astronom, Jupiter akan kehilangan atau mendapat kembali sabuknya tiap 10 atau 15 tahun. “Pertanyaannya sekarang, kapan sabuk equatorial selatan akan kembali,” kata Wesley. “Mungkin 15 tahun lagi.”
Jika Anda mencari tampilan terbaik Jupiter dengan ‘celana’ bawah, di mana bagian atas telanjang, Wesley mengatakan itu akan terjadi pada 24 September. Saat itu jarak Jupiter paling dekat ke Bumi.
- Cincin Jupiter?
Di Tata Surya, Saturnus bukan satu-satunya planet yang memiliki cincin. Jupiter si planet terbesar di Tata Surya juga memilikinya. Cincin di Jupiter sangat redup dan hampir tak terlihat atau dikenali seperti cincin Saturnus. Cincin di Jupiter ditemukan oleh pesawat ruang angkasa Voyager milik NASA tahun 1979. Di dalam cincin tersebut terdapat partikel-partikel kecil yang tercipta akibat tabrakan satelit Jupiter dengan meteorit. Butirannya yang sangat kecil dan jika digabungkan ribuan partikel pun hanya 1 milimeter panjangnya. Bisa dikatakan partikel-partikel tersebut sehalus partikel dalam asap rokok atau debu rumah.
Sistem cincin Jupiter. Orbit satelit-satelit dalam ditandai dalam gambar tersebut. Kredit : NASA/JPL/Cornell University.
Setelah Voyager, pesawat ruang angkasa Galileo milik NASA juga menjalankan misinya di Jupiter, dan ia bisa mengukur secara langsung besar partikel-partikel tersebut. Tidak hanya itu. Galileo juga berhasil melihat bayangan Jupiter membentuk bayang-bayang cincin planet dan orbit partikel di dalam cincin tersebut. Dari hasil penelitian terhadap cincin Jupiter di dekat Thebe salah satu satelitnya, terlihat kalau bayangan Jupiter memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk bayang-bayang cincin.
Ketika siang hari sednag berlangsung di Jupiter, cahaya matahari mengisi partikel debu dengan muatan positif sementara di malam hari, partikel-partikel tersebut justru membawa muatan negatif. Muatan yang berbeda memberi reaksi yang berbeda terhadap medan magnet Jupiter sehingga menyebabkan terjadinya perubahan pada orbit partikel. Dan ketika berada pada kondisi yang tepat, bahkan kemiringan partikel cincin bisa ikut berubah.
Sebagai contoh, ternyata sebagian butiran debu dipaksa untuk memiliki orbit berdasarkan kemiringan cincin yang skeitar 20 derajat terhadap ekuator Jupiter. Padahal partikel debu yang terlihat pada cincin yang tampak oleh pengamat memiliki orbit dengan kemiringan hanya 1 derajat.
Menurut Douglas Hamilton dari Universitas Maryland di College Park, “Debu di sekeliling planet memperoleh muatan listrik dari tabrakan dengan plasma yang mengorbit. Cahaya Matahari disini berperan seperti stop kontak, yang membebaskan elektron dari permukaan partikel cincin. Jadi saat Matahari sedang menyinarinya, elektron akan dipaksa keluar dari butiran debu dan saat terbayangi elektronnya akan kembali.”
Dari data yang diambil Gallileo selama 7 tahun terbang mengelilingi Jupiter, ia berhasil mengumpulkan daftar ribuan tabrakan partikel dalam cincin Jupiter dari tahun 2002-2003. Galileo sendiri pada tahun 2003 harus mengakhri misinya dengan menjatuhkan diri ke dalam atmosfer Jupiter. Dari hasil pemodelan, para ilmuwan berhasil melihat fenomena baru di cincin Jupiter, sesuatu yang ada di dalam cincin yang sebelumnya tak diketahui. Contohnya, partikel debu bisa ditemukan jauh dari planet, lebih jauh dari yang diasumsikan para ilmuwan sebelumnya. Di samping itu sebagian partikel juga memiliki orbit yang sangat besar kemiringannya terhadap ekuator Jupiter.
Hasil penemuan ini sangat signifikan karena muatan elektrik di dalam partikel debu merupakan salah satu poin penting dalam kelahiran planet. Mengapa? Tentunya karena planet itu sendiri terbentuk dari piringan debu dan gas.
- Misteri Es di Europa
Dengan diameternya 3.138 km, Europa sedikit lebih kecil daripada bulan kita. Analisis geologinya mengungkapkan bahwa Europa mempunyai interior yang padat, hanya kulitnya yang berselubung es. Dari jarak jauh, permukaan Europa tampak halus. Permukaan yang paling halus di antara semua anggota tata surya.
Pengamatan Galileo atas Europa menggambarkan permukaannya yang lebih rinci daripada data sebelumnya oleh pesawat Voyager pada tahun 1970-an. Gambar yang kirimkan menunjukkan dataran beku yang penuh dengan retakan dan barisan bukit (ridge). Foto jaringan barisan bukit itu mirip foto jaringan jalan raya di kota besar.
Permukaan yang retak mirip keadaannya dengan lautan Artik yang selalu beku di kutub utara. Retakan itu telah terisi bahan-bahan berwarna gelap. Munculnya materi dari retakan permukaan es itu diduga menghasilkan barisan bukit di sekitarnya. Adanya retakan dan barisan bukit itu menunjukkan bahwa lempengan permukaan Europa mengalami perseran. Ini mirip pemisahan lempeng benua di dasar samudra di bumi.
Langkanya kawah-kawah tumbukan meteorit menandakan permukaannya relatif muda, “hanya” sekitar 30 juta tahun. Artinya, ada aktivitas yang mengubah permukaannya dengan menggantinya dengan timbunan materi-materi baru. Karenanya perbedaan kerapatan jumlah kawah tumbukan bisa menunjukkan adanya perbedaan umur geologi permukaannya. Tetapi mungkin pula hilangnya kawah-kawah tumbukan itu hilang tersapu erosi air yang mengalir ribuan atau jutaan tahun lalu, ketika permukaan Europa masih hangat.
Pada barisan bukit di permukaan yang termuda yang dipotret pada jarak hanya 3400 km terlihat noktah seperti aktivitas gunung berapi dingin (cryovulcanism) yang mungkin melemparkan es dan gas. Di permukaan Europa yang beku itu, aliran “lava” gunung berapi mungkin berbentuk cairan air dingin. Barisan bukit di dekatnya tampak terputus oleh aliran itu.
Foto-foto dari Galileo baru-baru ini menunjukkan lautan air berada di bawah lapisan es itu. Bila lautan itu bukan keadaan sesaat, tetapi benar-benar selalau ada, ada dua pertanyaan yang berkaitan: apakah lautan air itu hanya sebatas danau di sekitar titik panas atau lautan global yang menutupi permukaan Europa di bawah lapisan es itu. Sampai saat ini teka-teki ini belum terjawab.
Gambar-gambar yang dikirim Galileo memberikan indikasi adanya air dan sumber panas di bawah permukaannya. Bila benar ada air di bawah es itu, maka bisa dipertanyakan pula adakah kehidupan di air itu. Semua kehidupan di bumi berasal dari air, wajar bila dipertanyakan pula ada tidaknya kehidupan di Europa.
Para ilmuawan mempunyai tiga kriteria untuk menduga kemungkinan adanya kehidupan di luar bumi: adanya air, adanya sumber panas, dan adanya senyawa organik. Di Europa air diduga ada. Senyawa organik pun diduga ada, karena di tata surya senyawa organik banyak ditemui. Pertanyaan lainnya yang harus dijawab adalah cukupkah sumber panas di bawah permukaan es itu mendukung kehidupan. Gambar dari Galileo menunjukkan adanya aliran es yang mengisyaratkan adanya sumber panas di bawah permukaan es itu.
Jadi, mungkin di bawah lapisan es itu terkandung kehidupan. Tetapi, mungkin bentuknya masih primitif, sekedar binatang bersel satu. Perpanjangan missi Galileo selama dua tahun lagi membawa harapan terkuaknya lebih banyak bukti tanda-tanda kehidupan atau prasyarat kehidupan di luar bumi.
Europa merupakan medan perburuan makhluk hidup di luar bumi yang sangat menarik, selain planet Mars. Namun, Europa tampaknya lebih menjanjikan daripada Mars, walaupun jaraknya lebih jauh.